I’m Thinking of Ending Things Menggambarkan Ketakutan Utama Orang Indonesia

I'm Thinking of Ending Things

Sabtu kemarin di siang hari bolong, gue menyempatkan diri untuk menonton I’m Thinking of Ending Things yang rilis sehari sebelumnya. Seperti biasa tanpa melihat sinopsis dan trailer, gue langsung aja nonton. Pemicunya adalah karena sang sutradara, Charlie Kaufman, adalah penulis salah satu film yang menurut gue punya kesan mendalam juga, yaitu Eternal Sunshine of the Spotless Mind.

Jesse dan pacarnya baru sampai di rumah Jake

 

Jake dan pacarnya baru sampai di rumah Jake. Sumber: IMDb

Tentang Film

First Impression gue bisa kalian liat disini. Setelah nonton, gue langsung baca beberapa artikel yang nge-breakdown maksud dan makna cerita film ini. Rasanya susah banget untuk memahami kenapa nama cewe ini berubah-ubah, kenapa umur orangtua Jake juga berubah-ubah, kenapa anjingnya selalu mengibaskan badannya, kenapa tiba-tiba ada scene menari-nari, kenapa foto di rumah Jake itu malah foto si cewe, ada masalah apa Jake dengan cewe-cewe penjual es krim, kenapa si kakek tiba-tiba telanjang, dan kerumitan lainnya yang gue gabisa pahami. Salah satu artikel yang bikin gue paham bisa dibaca di sini.

Setelah kerumitan-kerumitan itu terjawab dan saling terhubung maknanya antara satu scene dengan scene lainnya, gue baru bisa amat sangat mengagumi secara maksimal. I’m Thinking of Ending Things adalah salah satu karya yang memiliki kreativitas tanpa batas. Eksekusinya terlalu liar. Siapa yang menyangka perempuan yang ada di poster film bukanlah fokus utama cerita ini. Salut banget sama temen-temen film di Twitter/Letterboxd/Instagram yang bisa paham langsung setelah film berakhir. Mungkin, I’m Thinking of Ending Things bisa menjadi standar minimum sinepil hahaha.

Ga heran dibilang psikologi drama dan horror. Coba deh bayangin, siapa yang mau hidupnya berakhir seperti Jake? Pasti semua ingin hidup sesuai dengan keinginannya masing-masing. Disini kita tau persis keinginan Jake adalah hidup bahagia, memiliki pacar, hubungan dengan orangtua yang baik dan mudah bergaul dengan orang lain. Sebagai manusia yang dibilang makhluk sosial, memang kesepian menjadi musuh utama.

Rasa kesepian ini bikin gue keinget sama lagu alm. Chrisye berjudul Sendiri

Sendiri termenung
Di larut malam nan hening
Hatiku s’makin gundah
Oh mata membasah

Bayu dingin lalu
Dan bintang mengedip sayu
Rembulan menyuram
Tiada terbayang harapan

Realita

Kita semua tau saat makin dewasa, orangtua akan semakin menua dan bisa meninggalkan kita selamanya, teman-teman yang dulu bersama akan mulai pergi satu per satu, yang tersisa hanyalah diri sendiri. Good for you kalo udah menemukan the one yang akan nemenin hingga akhir hayat. Good for you kalo memang memilih untuk sendiri karena alasan keyakinan. Good for you kalo memilih sendiri tidak akan membuat kalian merasa kesepian. Gimana buat yang tidak memilih sendiri tapi belum bertemu jodohnya? Apakah ada kekurangan sampe bikin orang tidak tertarik? Apakah konsep “jodoh gaakan kemana” bisa menjadi penyemangat? Sampai kapan kalimat itu berlaku? Kalau mencari jodoh sudah diusahakan, gimana kalau Tuhan berkata tidak?

Saat makan malam bersama keluarga Jake

Saat makan malam bersama keluarga Jake. Sumber: IMDb

Jake tidak ingin hidupnya berakhir di dalam mobil diselimuti dinginnya musim salju. Jake juga pengen punya hidup yang indah seperti seperti yang diinginkannya. Kenapa Jake bisa berakhir kaya gitu? Mungkin Jake kurang berusaha. Mungkin Jake punya karakter yang menyebalkan. Mungkin Jake kurang bergaul. Mungkin Jake tidak diizinkan oleh Tuhan. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang bisa menjadi list panjang tersendiri. Tapi sadar gak sih bahwa kemungkinan-kemungkinan ini bisa terjadi juga sama kita yang tidak memilih sendiri dan belum bertemu jodohnya? Kemungkinan-kemungkinan inilah yang bisa menghantui diri kita sampai akhir hayat. Bahkan dari kemungkinan-kemungkinan tadi, ada peluang memunculkan Jake Jake lainnya diluar sana. Gimana, udah berasa belum horrornya?

Horrornya kisah Jake di film I’m Thinking of Ending Things inilah yang mungkin menjadi penggambaran ketakutan utama masyarakat Indonesia pada umumnya. Setiap ada acara keluarga, acara reunian, atau acara apapun yang membutuhkan basa-basi, kalo kita terlihat masih single, sering muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “mana pacarnya?”, “kok masih sendiri?”, atau “kapan nikah?”. Rasanya seperti seakan-akan sendiri itu sama dengan kesepian. Dengan seringnya pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan, apakah emang bener itu adalah gambaran kalo ternyata kita setakut itu? Padahal, being alone dan feeling lonely adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa merasa tidak kesepian walaupun sedang sendiri. Sebaliknya juga, kita bisa merasa kesepian walaupun lagi berada di keramaian.

Pada Akhirnya…

Jake seperti anak kecil yang memiliki keinginan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Tapi sayang, Jake bukan anak kecil yang masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan impiannya di masa depan. Makanya, Jake ingin mengakhiri ini semua (ending things) dengan cara yang ia bisa. Mengetahui dan memahami kenyataan pahit inilah yang menjadikan I’m Thinking of Ending Things salah satu film horror yang bisa menghantui gue seumur hidup.

Belom nonton I’m Thinking of Ending Things di Netflix? Klik disini.

Tagged : / / /

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *